dinarisme

Whoever is reading this, I hope your day will be blessed with happiness. ☺ FH UB 2010 , Liverpudlian, Hello Kitty, Dinarisme , PSDM BEM FH UB and follow twitterku @dinar_nastity
Some people meet the way the sky meets the earth, inevitably, and there is no stopping or holding back their love. It exists in a finished world, beyond the reach of common sense.
— Louise Erdrich

Sudah hampir matahari terbit yang ke 600 semenjak aku mengetuk pintu rumahmu.

Namun kau tak mendengar ketukanku.

Jadi aku hanya bisa mengintip dari balik jendela.

Termenung di depan pintu bertanya-tanya.

Kapan kan tiba waktunya saat pintu ini kau buka dan berkata,

“Mari masuk. Ceritakan siapa dirimu.”

“Gratitude turns what we have into enough, and more. It turns denial into acceptance, chaos into order, confusion into clarity…it makes sense of our past, brings peace for today, and creates a vision for tomorrow.” ― Melody Beattie


Akhir-akhir ini saya melihat banyak hal yang membuat sanubari saya tersentuh dan hati saya retak. Seorang bapak yang telah 13 tahun berjualan kue putu di daerah kampus saya, misalnya. Beliau harus tinggal jauh dari keluarganya di Jawa Tengah sana, demi mencari sesuap nasi. Lalu saya bertemu seorang pemuda, mungkin usianya sekitar 26 tahun. Dengan tertatih-tatih ia menaiki angkot karena kakinya tidak sempurna sehingga harus memakai tongkat. Namun tak ada rasa frustrasi di wajahnya. Ia malah tersenyum, sambil mengucapkan terima kasih karena telah membantunya. Saya juga baru saja membaca koran pagi ini mengenai kisah seorang nenek yang usianya sudah diatas 80 tahun yang berjualan kerupuk ke rumah-rumah, untuk membantu keluarganya. Lain halnya dengan cerita Drew Cox, meskipun baru berusia 6 tahun, ia berhasil mengumpulkan 10.000 Dollar AS dengan berjualan minuman lemon demi membantu biaya pengobatan ayahnya yang didiagnosa dokter menderita penyakit kanker langka.

Namun yang paling menampar saya adalah ketika saya melangkahkan kaki keluar gerbang kampus, ada sosok kakek tua, yang setiap hari tanpa pernah bosan menjajakan tali sepatu dagangannya. Tetapi, sepi. Terlalu banyak orang yang hanya berlalu-lalang mengaku agen perubahan yang mengejar pendidikan, tetapi untuk sebentar saja diam dan memperhatikan kehadiran kakek tua tersebut, tak ada waktu. Lalu saya sadar, saya sering bertemu dengan kakek tersebut di mushola dekat kampusku.
eliau adalah ayah dari 12 orang anak, dimana 5 orang telah berkeluarga namun 7 orang lagi masih bersekolah di bangku SMP dan SMA. Penghasilan kakek membersihkan mushola dan menjajakan tali sepatu tak seberapa, beliau baru pulang ketika sudah berhasil mengumpulkan beras 20 kg untuk dibawa ke keluarganya di Garut. Saya tidak tahan untuk tidak menitikkan air mata. Eksistensi saya sebagai manusia dengan hati nurani ditampar. Saya merasa salah. Saya merasa saya lebih sering mempedulikan urusan saya sendiri, dibandingkan mencoba membuka mata dan melihat sekeliling. Apresiasi saya setinggi-tingginya untuk kakek tersebut, meski beliau sudah tua, kakek tetap mencoba berusaha mencari nafkah bagi keluarganya, dan menolak untuk menjadi pengemis. “Toh kakek masih bisa jalan,” ujar beliau. Sementara saya, terkadang untuk mengerjakan tugas saja rasanya malas sekali. Tapi kakek, tetap bertahan disana, di bawah terik matahari, guyuran hujan, panas ataupun dingin, untuk menjajakan tali. Untuk mencari sesuap nasi.
Hal-hal tersebut juga menyadarkan saya untuk lebih bersyukur dan tidak cepat mengeluh.

Mungkin, kita lebih sering mengeluh akan hal-hal kecil, entah itu cuaca yang terlalu panas atau dingin, BBM yang pending, makanan/minuman yang tidak enak, mengeluh soal keluarga kita, berkomentar pedas akan hal yang tidak perlu, mengeluhkan pakaian, dan segala hal lainnya.

Padahal kalau kita mau sejenak saja merenung dan melihat sekeliling, di luar sana masih banyak orang dengan masalah yang lebih besar dari kita. Masih banyak teman-teman yang kurang beruntung untuk memiliki tempat tinggal, sehingga mereka harus menjadi nomaden untuk mencari tempat berlindung. Masih banyak teman-teman yang tidak semudah kita untuk mendapatkan makanan, banyak dari mereka yang bahkan tidak tahu apakah malam ini akan makan atau tidak. Makanan menjadi ketidakpastian bagi mereka. Bahkan ada anak-anak kecil atau kakek nenek tua yang sebatang kara, termenung di trotoar jalan, hampa. Tanpa tahu kemana harus berlabuh. Tanpa ada peluk orang tua, kehangatan keluarga, apalagi rumah yang nyaman, dan mahalnya rasa aman. Sementara kita sibuk ‘mager’ untuk belajar atau mengerjakan tugas sekolah/kampus, di luar sana ada anak-anak dan pemuda yang hanya bisa memperhatikan orang-orang mengenakan seragam sekolah berlalu-lalang. Berharap mungkin ada keajaiban, sehingga mereka bisa mendapat kesempatan yang sama. Tapi kita yang sudah mendapat kesempatan sekolah, bahkan hingga ke jenjang perguruan tinggi, kadang malah mengeluh, ironiskah?

Tuhan sudah memberikan kita panca indera yang berfungsi dengan normal, orang tua yang mencintai kita, tempat tinggal nyaman untuk berlindung dari panas dan hujan, makanan yang nikmat, kesempatan untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya. Orang tua kita tidak perlu diam di perantauan, sendirian, menjajakan barang dagangan yang sepi akan pelanggan. Kita bisa makan ketika lapar, minum ketika haus, tidur ketika mengantuk, dan kita selalu punya tempat untuk pulang. Sementara di luar sana, kehangatan rumah menjadi angan-angan belaka bagi sebagian orang. Bisa duduk di bangku sekolah hanyalah dongeng sebelum tidur.

Mungkin ada baiknya, mulai sekarang, kita lebih aware akan kehidupan sekitar, lebih membuka mata dan mau memperhatikan sekeliling kita, karena mungkin sebenarnya lingkungan kita tidak baik-baik saja, mungkin kita yang menutup mata. Mungkin kita harus mengurangi mengeluh akan hal-hal sepele, lebih bersyukur akan segala anugerah dari Tuhan, yang kalau kita sadari, anugerah Tuhan sesungguhnya lebih banyak daripada ketidaknikmatan.

Mungkin, kita juga lupa untuk bersyukur akan satu hal yang sungguh sangat esensial, hidup. Tuhan masih memberikan kesempatan bagi kita untuk menghirup nafas dan hidup di dunia, sementara di luar sana ada orang-orang yang bahkan bernafas pun membutuhkan bantuan dan mereka yang kini sedang meregang nyawa.

Mari kita lebih bersyukur, lebih peduli, lebih empati, karena hidup yang bermakna adalah hidup yang penuh rasa syukur dan dimana kehadiran kita membawa manfaat bagi orang-orang di sekitar kita.

Hidup itu indah jika kita mau bersyukur.

Mari sejenak saja untuk diam dan dengan penuh syukur, dongakkan kepala, seraya berkata: “Terima kasih, Tuhan.”

:)

chibird:

The present may look dim, but the future is bright~ Keep going! -waves pom poms- > u <

(via mochacafe)

(via otakulei)

ketika sudah tak ada lagi yang dapat dipertahankan di suatu tempat maka pergilah ke tempat lagi yang bisa kau jadikan alasan untuk bertahan

ANISATUL FH UB 2011

belajar dari yang muda itu baik :)

ketika komunikasi di halangi dengan berbagai kesibukan, maka bicaralah lewat hati dengan cara mendoakan

Aku. Tidak ada banyak kata yang bisa menggambarkan diriku selain satu: penakut. Pun tidak banyak jejak yang kubuat sehingga orang-orang tidak mudah menemukanku. Dan aku hanya bisa mengenal kau dalam mimpiku.

Dalam mimpi, kau mengajariku banyak hal tentang hidup, tentang agama yang kuanut, tentang bagaimana cara mengusir rasa takut, juga tentang langit dan kabut.

Kau. Seseorang yang entah kenapa selalu membuatku merasa damai ketika menatap langit. Kau pula yang selalu membimbingku berjalan di tengah luasnya padang berkabut.

Kau yang senang bermain dengan tanda-tanda, sedangkan aku terlalu takut mengartikannya.

Mimpi seolah-olah ada, atau memang sudah ada sebelum aku benar-benar memimpikannya? Aku rasa belum saatnya mimpi-mimpiku menjadi nyata, itu karena ketidaksiapanku menyambutmu dalam sempurna.

Sempurna seperti yang kau mimpikan juga.

Kau-aku, apakah kita pernah berjumpa dalam mimpi yang sama?

Lebih baik orang yang mendapatkanmu itu orang yang lebih banyak tahu kekuranganmu daripada kelebihanmu. sebab dia membawa komitmen kuat untuk membimbing dan bertanggungjawab atasmu.

Jatuh cinta padamu itu bukan suatu kesalahan, karena cinta itu dari Tuhan, dan Tuhan bukanlah kesalahan. Dan jangan tanya apa sebabnya, karena cinta tak butuh alasan.

Lalu kalau sekarang aku tak lagi jatuh cinta padamu, mungkin itu suatu kesalahan. Entah apa yang salah, namun pasti ada penyebabnya.

Dan ada kesalahan yang dapat diperbaiki, ada yang tidak. Aku tidak tahu, jika ini memang suatu kesalahan - apakah ini semacam kesalahan yang dapat diperbaiki atau tidak.

Yang pasti, hidupmu (mungkin) akan lebih tenang sekarang. Aku tak lagi akan mengganggumu dengan harapan-harapanku, meskipun mungkin masih ada rasa rindu yang menggunung. Bukankah rindu itu tak selamanya berarti cinta?

Jadi ijinkan aku untuk sesekali merindukanmu. Karena aku manusia biasa yang masih punya hati dan kenangan. Dan pernah menempatkanmu di tempat teristimewa di hatiku.

Aku sedang belajar. Aku sedang belajar. Aku sedang belajar untuk menjadi “pantas”, berdampingan denganmu di suatu hari nanti.
Seenggaknya Tuhan gak ikut mempermalukanku disaat semua mentertawakanku . .
Jika tak ingin patah hati (lagi), kumohon berhentilah menyakiti dirimu sendiri.
nggak semua cinta membuat kita lupa akan ibadah. beberapa cinta membawa kita untuk lebih dekat kepada-Nya.